A B A H

9:54 PM

( H. Ahmad Akiel - Dalam Kenangan )
20 September 1919 - 20 September 1989


Tak banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama ketika aku kecil dulu.  Menginjak  usia sekolah menengah pertama pun keadaan tetap sama, bahkan lebih parah.  Aku hanya dapat menjumpainya, jika aku datang berkunjung ke kediamannya.  Usia beliau yang semakin senja adalah salah satu penyebabnya.  

Namun, entah mengapa aku mempunyai keterikatan yang amat sangat kuat padanya.  Ia selalu mengatakan padaku bahwa, di dunia ini akan selalu ada yang namanya mantan isteri atau mantan suami, tetapi TIDAK AKAN PERNAH ADA YANG NAMANYA MANTAN ANAK.

Rasanya, tak cukup lama aku mengenal beliau, rasanya tak cukup puas aku merasakan belaian lembutnya.

Beliau tak pernah marah, tidak sekalipun.  Bagaimanapun aku bertingkah laku, beliau selalu dengan lembut dan penuh senyum menuntunku, menunjuki dan selalu membelai lembut rambutku jika ada waktu.

Yang amat sangat aku ingat adalah bahwa beliau adalah seorang yang taat.  Sholat 5 waktu tak pernah terlambat.  Aku ingat, waktu kecil dulu, beliau selalu mengajakku berkeliling dengan sepeda tuanya yang sangat terawat.  Walaupun hanya sekedar untuk melihat sungai Siak yang tak beriak dan perahu yang berlalu lalang.  

Dua hal yang selalu melekat dan ku ingat tentang beliau adalah saat beliau sholat di bawah jembatan Siak dengan beralaskan koran.  Dan aku hanya duduk, diam memperhatikan.
Yang kedua adalah ketika beliau datang ke rumah, ketika itu rasanya aku masih usia TK, beliau memintaku mengikutinya sholat di belakang.  Aku melakukannya dengan senang,  meskipun kala itu, aku tidak tahu apa yang aku kerjakan.

Entah karena melihat beliau yang begitu taat atau karena sekedar rasa hormat, tanpa aku sadari, perilaku beliau merasuk kedalam jiwa dan sanubari, sehingga ketika tamat Sekolah Dasar, dengan sangat lantang aku meminta di sekolahkan di sekolah Islam.  Beliau menuruti.

Rasanya, aku bukanlah anak yang berbakti.  Terbukti, ketika beliau sakit dan sekarat, aku justru mendo'akan agar nyawa beliau segera diangkat, agar tidak merasakan sakit yang begitu sangat.
Tak berapa lama, beliau pun mangkat.  Hanya sesal yang menyesak di dada. Kenapa Allah menjawab do'aku?  Kenapa tak kupanjatkan do'a atas kesembuhannya?

Ketika itu usiaku masih sangat belia, aku hanya mengikuti sebuah kisah yang kubaca. Tentang seorang ibu yang meminta Tuhan mengambil saja nyawa anaknya yang tengah sakit parah dari pada anaknya tersiksa. Namun ajaibnya, anak itu justru sembuh.  

Aku berharap, keajaiban itu juga terjadi pada Abah. Jauh di lubuk hatiku aku ingin beliau sehat kembali, bergurau lagi dan berbincang denganku serta membelai lembut rambutku.  Ternyata aku keliru.  Keajaiban itu tidak terjadi pada kami.  Dan aku harus membayar mahal dengan kepergian Abah dan perasaan bersalah yang melanda.

Batam, 20 Februari 2013

You Might Also Like

3 comments

  1. Masha Allah bundaaaa!!
    apa yang anda rasakan dan alami sama seperti saya, saya mendo;kan suami ketika sakit parah, Ya Allah andaikan kesembuhannya lebih baik sembuhkanlah, andai kematian itu lebih baik, biarkanlah, aku rela, ridha dan ikhlas jika Engkau berkehendak memanggilnya pulang, dan Allah memanggilnya pulang, saya berdo'a seperti itu karena suami sudah 3 tahun menderita dengan penyakitnya, dan sekarang hanya sesal di dada, karena saya rindu dia kembali

    ReplyDelete
  2. Subhanallah... Sama-sama kita do'akan ya, Bun. Semoga almarhum diberikan tempat yang sebaik-baiknya dan dijauhkan dari siksa kubur...Aamiin.

    ReplyDelete

Contact Form

Name

Email *

Message *